menulis

[cerpen] Tak Lagi Tersisih

Kamu memandangiku dengan tulus lewat matamu yang begitu indah. Sepertinya ada kenangan tersendiri antara aku dan kamu. Kamu mencoba meraihku hingga tiba-tiba, sebuah suara mengagetkanmu.

“Aniiiin, teman-temanmu sudah datang, tuh,”

“Eh iya, Mah. Sebentar lagi,” jawab Anin dengan suaranya yang merdu. Suara yang biasa melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an di ruangan ini. Anin tak jadi meraihku, dia lebih memilih si cokelat dan segera mengenakannya.

Aku kecewa. Untuk ke sekian kalinya, aku harus memupuskan harapanku bersama Anin. Apakah aku sudah tak berguna lagi. Aku sedih.

***

Kulihat Anin sedang bercakap-cakap dengan temannya. Sepertinya Anin sedang menjelaskan sesuatu. Anin kemudian membuka lemari hingga aku makin jelas melihat sosok temannya. Seorang gadis remaja. Sepertinya lebih muda dari Anin. Penampilannya tidak seperti teman-teman Anin yang lain. Si gadis terlihat cuek memakai kaus dan jeans yang belel.

Anin menatapku dan teman-temanku. Dengan sigap, Anin meraih si biru, si hitam, si hijau, si cokelat. Hei, bukannya si cokelat itu kesayangan Anin karena dia begitu simpel dan praktis. Hmm, jangan-jangan, Anin akan bepergian cukup lama, makanya ia mengambil si cokelat dan mengajaknya pergi. Lagi-lagi aku kecewa.

Aku lihat Anin menatapku. Lagi-lagi pandangan yang tulus penuh arti. Dia nyaris meraihku ketika temannya mulai bicara.

“Aku malu, Kak,” ujarnya.

“Kenapa mesti malu untuk melakukan kebaikan,” ujar Anin tersenyum. Dia menutup lemari dan kali ini aku lagi-lagi hanya bisa mengintip sedikit.

“Iya, Kak. Tapi, aku kan biasa tomboi, hehe,” ucap gadis itu. Gadis yang lugu.
Kulihat Anin meletakkan si cokelat dan yang lain ke hadapan gadis itu.

“Ini buat kamu. Pelan-pelan, yah sebelum kamu bisa beli sendiri, kamu pakai ini aja,” ujar Anin.

Aku terkesiap, teman-teman yang lain juga. Apa jadinya kami ketika harus menjadi milik orang lain, bukan lagi milik Anin. Kami pun mengucapkan syukur.
Tapi tiba-tiba, kami melihat pemandangan yang sangat mengharukan.

“Makasi banyak Kak Anin. Makasi, ya,” ujar gadis itu memeluk Anin.

***

Aku lihat Anin tengah membereskan banyak barang di kamarnya. Sepertinya akan ada acara. Aku kenal Anin yang aktif di beberapa organisasi sejak ia masih di bangku sekolah. Aku sering menemaninya saat itu. Sekarang, begitu jarangnya Anin mengajakku. Aku bisa pahami. Mungkin karena Anin lebih sering terburu-buru atau terlampau sibuk sehingga lebih memilih yang lain yang lebih praktis.

***

Aaah, aku gembira sekali hari ini, Anin meraihku dan mengecupku. Aku tahu, dia akan mengajakku ke acara baksos itu. Diletakkannya aku di atas kasur. Dipilihkannya bros bunga cantik. Diambilkannya pelapis dengan warna yang senada. Tak terkira rasa gembiraku hari itu. Anin tak lagi melupakanku, walau banyak yang lebih praktis.

Oh ya, aku diletakkan dekat beberapa temanku yang akan dijual di acara baksos. Aku sedih sekali. Aku akan berpisah dengan mereka. Tapi saat itu, aku berusaha menghibur mereka. Aku katakan semoga mereka akan menemukan orang-orang yang baik hatinya seperti Anin.

Anin tampak sibuk sekali. Beberapa kali, aku lihat ia bolak-balik.

“Iya, Mah, udah aku siapkan,” ujar Anin dari kamar. Anin bergegas masuk kamar mandi. Aku lihat sang bunda masuk kamar Anin.

“Sayang, mamah bereskan ya yang ada di kasur.” Bunda Anin merapikan teman-temanku, diletakkannya mereka di atas kardus. Dan, eh, tiba-tiba bunda Anin meraihku, meletakkanku bersama dengan teman-temanku. Aaah, aku tidak ikut bersama mereka. Aku akan diajak Anin.

Mau berteriak sekencang apa pun, tak ada yang mengerti, tak ada yang mendengar. Bisa kulihat bros bunga cantik terjatuh ke bawah tempat tidur.

***

Aku masih saja menangis hingga tertidur pulas. Ketika aku bangun, aku rasakan usapan tangan kasar seseorang. Rupanya itu adalah tangan seorang nenek.

“Rani, Nenek punya hadiah buat Rani,” ujar si nenek.

Seorang gadis remaja menghampiri si nenek yang memangku diriku.

“Tadi ada pasar murah, Nenek belikan ini buat Rani,” ujar nenek menyerahkan aku ke tangan Rani. Rani tersenyum dan kulihat sorotan mata yang sama seperti milik Anin. Aku terus memandang mata Rani yang tak berkedip.

“Cakep banget, Nek.”

“Iya, Ran… Tadi pas Nenek beli ini, yang jual baik, dia juga kasih bros ini.”

Aku ingat sekarang. Anin tampak kaget ketika si nenek memegang diriku. Aku berharap Anin bilang kalau aku tidak dijual. Tapi, Anin hanya diam, diusapnya diriku, ditatapnya dengan sorot mata indahnya.

“Seribu, Nek. Buat siapa, Nek?” Tanya Anin.

“Buat cucu, udah dua hari pakai kerudung.”

“Subhanallah, Nek. Ini bonus bros buat cucu Nenek, ya. Moga bermanfaat, ya, Nek.”

Aku tak lagi sedih mengingat Anin. Karena sekarang, Rani hampir selalu mengajakku bepergian ke acara pengajian, baksos atau acara syukuran.

Eh, tunggu dulu, aku lihat seseorang yang aku rindukan di sana. Dia memakai si krem yang rapi. Ada si bunga cantik yang menemani si krem. Rani mendekati Anin hingga kulihat si krem tersenyum kepadaku.

“Assalamu’alaykum Kak Anin,” sapa Rani.

“Wa’alaykumussalam, eh Rani… Cantik bener,” puji Anin. Kulihat Anin memandangiku, aku yakin ia pasti mengingatku. Anin memeluk Rani, aku pun ikut dalam dekapan persaudaraan indah mereka bersama si krem.

Bahagianya hatiku, aku tak lagi merasa tersisih

============

*terinspirasi dari si rapi abu-abu yang sudah lama kubiarkan karena si praktisšŸ™‚ Janji, yah, aku akan bersama kamu lagi*

Ai, cerpennya udah jadišŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s