menulis

[cerpen] TAMU

Hari ini, aku berkunjung ke rumah seorang sahabat. Kulihat di ruang tamu rumahnya, ada seseorang tengah duduk di sana. Ia tampak sibuk hingga tak menghiraukan kehadiranku. Kulihat segelas air teh, berbagai toples berisi beraneka ragam kue juga terhidang di meja tamu. Kuperhatikan, air teh di dalam cangkir masih terlampau banyak, sepertinya belum diminum. Tak ada satu pun toples yang dibuka.

Aku mengucapkan salam dan permisi kepada orang tersebut, walau ia masih saja sibuk dengan tumpukan barang di hadapannya.

“Siapa dia?” tanyaku seusai mengucapkan salam kepada sahabatku yang aku temui di dapurnya. Tampaknya ia tengah sibuk memasak.

“Temanku. Kami bertemu beberapa kali di acara kantor,” ujarnya dengan mata yang menyiratkan sesuatu.

“Kamu yang mengundangnya?”

“Iya, aku yang mengundangnya datang.”

“Apa yang dilakukannya di sana?” tanyaku menyelidik.

“Dia sedang mencari sesuatu yang cocok di sana. Kuharap dia menemukannya. Dan sebelum ia menemukan sesuatu yang cocok itu, aku ingin dia mau betah lebih lama di sana.” Ada harapan besar yang kulihat di sana. Aku harap temanku tak lagi kecewa seperti sebelumnya.

“Kamu yakin dia itu orang baik?”

“Tentu saja. Dia begitu sopan dan menghormatiku. Dia juga pintar dan cerdas.” jawab temanku yakin.

“Baiklah kalau begitu. Aku harap kau baik-baik saja. Hmm, aku pamit, ya. Masih ada pekerjaan yang harus aku lakukan.”

“Terima kasih sudah mampir, ya.”

“Kalau ada apa-apa, kamu tahu ke mana akan menghubungiku, ya.”
Sahabatku mengangguk.

Aku segera keluar dari dapur yang menebarkan aroma nikmat. Sahabatku yang satu itu memang jago masak. Bisa dibilang dia serba bisa. Satu kekurangan yang dimilikinya, dia mudah percaya dengan orang lain.

Aku lewati orang itu di ruang tamu. Dia masih saja sibuk. Kulihat isi cangkirnya juga masih penuh.

Kutarik napasku dalam-dalam. Kuharap kali ini temanku tak kecewa.

***

Aku sampai rumah sudah sore. Aku suka sekali suasana senja. Matahari tengah bersiap tenggelam dan semburat sinarnya begitu indah. Aku bisa betah berjam-jam untuk memandang sunset. Bahkan aku sengaja mendatangi suatu tempat untuk melihat sunset.

Senja juga mengingatkanku agar aku segera sampai rumah sebelum malam.

Kulihat ada sebuah motor terparkir di depan pagar rumahku. Tampaknya ada tamu. Kulihat ada seseorang tengah duduk. Dia langsung beranjak begitu melihatku. Membukakan pintu pagarku seolah dialah pemilik rumahku. Aku agak risih rasanya.

“Hai,” sapanya.

“Hai,” jawabku singkat.

“Tadi hujan deras, jadi aku numpang berteduh di sini,” ujarnya seolah aku memintanya menjelaskan.

“Oh,” ujarku singkat.

“Boleh aku masuk? Mungkin kita bisa minum kopi atau teh? Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan.”

Orang itu terlihat percaya diri. Yah, aku sadari itu sejak mengenalnya beberapa waktu dulu. Ia mudah akrab dan bersahabat. Tapi, kadang seperti tidak tahu diri.
“Maaf, aku sangat lelah,” ujarku tersenyum.

“Aku bisa membuatkanmu teh, nanti kamu tinggal duduk. Sepertinya suasana sore ini begitu damai, ya?”

“Tidak perlu,” ujarku, “aku hanya ingin istirahat, itu saja,”

“Sayang sekali, ya,” ucapnya terdengar kecewa.

“Hmm, maaf ya, banyak yang harus kukerjakan juga. Oh ya tampaknya langit sudah bersahabat,” ucapku memberi kode agar ia segera pergi dari rumahku. Bukankah tadi maksudnya hanya mampir untuk berteduh, bukannya berlama-lama di rumah ini.

“Baiklah,” ucapnya menyerah. Kulihat ia membereskan barang-barangnya dan segera menuju motornya.

Tak seperti tadi, ia membiarkan pagar rumahku terbuka, tak mengembalikan posisi kursi dan tampak ada beberapa sampah yang ia tinggalkan di sana. Apakah ia hanya ingin berteduh atau niat menungguku, entahlah.

***

Suara bel mengagetkanku. Aku lihat dari jendela, tampak seseorang tengah menunggu di balik pagar. Sejak aku berlari pagi tadi, aku tak lagi mengunci pagar. Bisa saja orang tersebut masuk seperti halnya orang yang kemarin.

Aku segera keluar dan membuka pintu rumah. Dia mengangguk dan mengucapkan salam.

“Maaf, mengganggumu pagi-pagi,” ujarnya sopan.

“Iya, ada perlu apa? Silakan masuk,” ujarku membuka pintu pagar.

“Ada berkas di sini, silakan kamu pelajari dulu. Aku langsung, ya,” ujarnya.

Dia sama sekali tak duduk di beranda rumah. Dia begitu cepat pergi. Kupegang berkas darinya, isinya berbagai informasi yang sangat penting.

***

“Apa kabar kamu?” tanyaku kepada sahabat yang aku kunjungi beberapa bulan lalu. “Bagaimana soal orang yang kauajak ke rumahmu waktu itu? Kamu belum kasih kabar ke aku, nih.” Kami biasa bertukar kabar lewat telepon andai begitu sulitnya perjumpaan.

“Dia pergi. Dan dia hanya bilang kalau dia tak menemukan sesuatu yang cocok di rumahku,” ujarnya getir.

“Sabar, ya. Memang mungkin dia tak menemukan itu,” ucapku.

“Dia sama sekali tak menyicipi teh dan kue-kue, apa lagi makanan yang aku masak. Aku kecewa,” ucapnya lagi.

“Mungkin karena ia tak ingin memberi harapan besar ke kamu,” ujarku. Tak terdengar seperti menghibur, tapi lebih mengajaknya berpikir.

“Iya, aku tahu. Sekarang, paling tidak, ada yang menghargai teh, kue-kue dan makanan yang aku hidangkan,” ujarnya terdengar senang.

“Oh, ya. Siapa dia?”
Mengalirlah sebuah cerita yang menyenangkan dari sahabatku itu. Si sahabat merasa cocok berbicara berbagai hal dengan seseorang itu. Katanya, ia pandai menghargai, bersahabat, perhatian, ramah dan baik hati.

Aku turut senang mendengarnya. Semoga kali ini sahabatku tak lagi kecewa.

***

“Hai, apa kabar?” sapa sahabatku sore itu. Kali ini, ia yang mengunjungiku.

“Baik, bagaimana dengan kamu?” tanyaku sambil menyiram tanaman di depan rumah. Ritual sore hari yang sangat aku suka.

“Sepertinya, akan aku tutup pintu rumahku beberapa waktu ini,” ucapnya datar.

“Ada apa?”

“Kamu ingat dengan orang yang aku ceritakan terakhir? Yang begitu menghargai makanan yang aku hidangkan dan kami begitu cocok ketika berbincang?” ucap sahabatku kesal.

“Iya, aku ingat. Ada apa dengannya?” Terakhir, ketika sahabatku bercerita, aku belum sempat bertanya bagaimana mereka bisa bertemu. Sahabatku itu begitu sibuknya memuji dan menceritakan kenyamanan bersama orang tersebut walau katanya mereka belum mengenal secara baik. Entahlah.

“Dia pergi begitu saja ketika itu. Dia membawa banyak barang-barang berhargaku. Dia meninggalkan sampah di sudut rumahku. Dia juga merusak pagarku. Aku membencinya.” Sahabatku itu kesal. “Lucunya, aku pernah melihat orang itu di beranda rumah orang yang aku kenal belum lama ini.”

Aku terdiam.
Sepertinya, aku menemukan benang merah di sana.
“Maaf, bagaimana kamu bisa bertemu dia?” tanyaku.

“Dia singgah ke rumahku saat aku tak ada. Dia duduk di kursi beranda rumahku. Katanya, ia sedang berteduh menunggu hujan reda. Lalu, ketika aku pulang, dia meminta dirinya masuk ke rumahku,” ucap sahabatku mengingatkan kehadiran seseorang yang juga pernah duduk di beranda rumahku.

***

Kupandangi berkas-berkas itu di ruang tamu rumahku. Aku sudah memberi kabar si pemilik, untuk merealisasikan isi berkas itu sebelum kedatangan tamu-tamu tak diundang di beranda rumahku.

-o-

*intinya, janga lupa tutup pagar dan pintu rumah yang rapat kalau nggak mau ada orang tak diundang yang nyelonong masuk*
đŸ˜€

Pondok Kelapa, awal November 2011
Good morningđŸ˜‰

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s