berpikir

Dari Banyak Sisi

“Kalau nggak malu sama istri, saya mending pulang,” ujar si sopir angkot ketika aku bertanya soal jam habis angkot. Sang istri selesai kerja pukul 11 malam.
Tanpa saya bertanya lagi, si bapak sopir pun menjelaskan kalau si istri jaga bengkel dan stem (aku nggak tahu seperti apa tulisannya) sampai pukul 11 malam di rumah.

Hari itu, aku kembali pulang malam selepas kuliah. Kira-kira sudah pukul setengah 9 kurang, aku keluar kampus, dan sampai terminal pukul 9 kurang.

Awalnya, hanya aku calon penumpang angkot ini. Jadi, aku leluasa untuk membuka pembicaraan. Seperti biasa, aku bertanya apa angkot itu sampai Kalimalang. Bukan sekadar basa-basi. Tetap ada kekhawatiran kalau-kalau dipindah-pindah ataupun tidak sampai tujuan.

Si bapak sopir mengeluhkan betapa macetnya perjalanan sejak ada pembangunan koridor bussway Kampung Melayu-Pulo Gebang. Katanya, banyak sopir tak lagi ‘narik’ ketika malam karena sudah kelelahan saat siang. Yah karena macet itu.

Ya memang, sejak ada pembangunan koridor bussway itu, jalanan makin sempit, sementara volume kendaraan tetap banyak. Kadang aku lebih memilih pulang bakda Magrib saja semisal kuliah sudah selesai pukul setengah 5. Capek di jalan karena bareng banyak orang pulang kerja.

Di satu sisi, aku bersyukur pembangunan bussway sampai daerah Pondok Kopi. Itu bisa menjadi alternatif perjalananku di beberapa kesempatan. Nggak terlalu takut pulang malam karena kalau naik bustrans relatif aman dan masih ramai.

Di sisi sopir-sopir angkot, pasti sangat berpengaruh. Entah macet bikin mereka lelah ‘narik’, sementara penumpang makin sedikit, entah masalah lainnya.

Dalam perjalanan, aku sering mengamati para sopir yang berbincang dengan temannya sesama sopir, bahkan beda angkot sekalipun, hehe. Sempat terdengar si sopir kelelahan dan lebih memilih pulang kampung. Ada juga kejadian sopir yang bete dengan ongkos yang kurang dari penumpang. Dan pernah juga, aku dinasihati pak sopir ketika di perjalanan.

Mereka berjuang untuk hidup di Jakarta yang makin menampakkan wajah tak bersahabat. Makin meyakinkan kerasnya kehidupan di sini.

Sementara si sopir angkot mengobrol dengan penumpang di sebelahnya, aku teruskan membaca buku. Salah satu kegiatan yang paling mengasyikkan karena bikin nggak berasa kalau perjalanan masih jauh, hmm selain tidur tentunya, eeeh :p Masih? Hehe, sekali-kali aja kalau ngantuk banget dan lampu di angkot tidak memadai kalau aku membaca :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s