berpikir · ibu

JAM MALAM

Aku lupa persisnya jam malam berlaku, apa lagi sejak aku tinggal terpisah dengan ibu. Apa lagi sejak aku punya kunci sendiri dan bebas masuk rumah.

Kepercayaan dari ibu dan kedua kakakkulah yang sebenarnya harus kujaga dengan baik. Mereka yakin, aku nggak akan macam-macam. Aku pasti akan mengabari kalau telat pulang atau menginap.
Akan tetapi, belakangan ini, aku mulai menyadari. Kepercayaan memang tetap mereka pegang, tapi pulang malam bukan sesuatu yang patut bagi seorang perempuan.

Aku jelaskan sebisaku. Kalau secara normal, ada 3 hari aku pulang malam dari kampus. Maksimal sampai rumah pukul 10-an. Kalau lebih, berarti memang ada acara atau urusan. Lebih dari jam itu, sebenarnya sudah tidak pantas.

Beberapa bulan terakhir, ada beberapa acara yang aku ikuti dan rapat diadakan usai pulang kerja atau pulang kuliah. Jadilah, berhari-hari itu, aku pulang malam. Tidak sendirian, ada teman-teman yang mengantar sampai pintu pagar rumah.

Tapi, ada perasaan tak enak menyeruak ketika aku pulang ke rumah kakak. Kakak ipar yang membukakan pagar dan pintu rumah setelah aku menelepon minta dibukakan pintu. Dia nggak marah, nggak sama sekali. Hanya menegur sedikit soal pulang malam, Ibu juga, ibu malah masih senyum dan tertawa. Tapi, justru itu yang membuatku merasa tak enak.

Sampai pada akhirnya, flu menyerang, dan jam malam pun diberlakukan. Aku pun mau nggak mau izin untuk absen rapat dengan alasan itu. Ibu melarangku pulang malam-malam. Ibu memintaku mengurangi berbagai kegitan.

Ibu dengan segala kepercayaan yang membebaskan, bisa dibilang tak pernah melarangku sedikit pun ketika aku mampu menjelaskan urgensi sebuah kegiatan. Ketika ibu melarang, itu berati sudah melewati toleransinya, dan biasanya itu terkait fisikku yang mulai melemah karena kelelahan.

Akhirnya, aku merasakan, begini lho rasanya dilarang. Oooh, begini ya kalau nggak diizinkan. Karena selama ini, bukan hanya dibolehkan, tak segan mereka pasti mendukung dan membantu.

Ibu memintaku berkonsentrasi pada kuliah dan kursus. Pekerjaan juga, karena itu menopang dua hal yang kujalani dan tentunya kebutuhan hidup lain yang juga harus kupenuhi.

Di luar itu, aku harus pikirkan dan pertimbangkan lagi. Bukannya tidak boleh sama sekali. Hanya, tahu dirilah, hehe.

Yah, aku mengerti, Bu.

*sebelum paket BB abis besok dan aku lagi enggan memperpanjang :D*

*sampai rumah pukul 10 kurang*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s