berpikir

Khayalan

Pernahkah engkau begitu bergembira dengan sesuatu, yang sederhana saja. Yang membuatmu tak berhenti tersenyum. Yang membuatmu bahagia seolah bunga-bunga bermekaran di sampingmu.

Ada banyak hal yang bisa membuatku seperti itu. Salah satunya adalah di suatu hari yang basah.

Di luar hujan, tiba-tiba aku dapati sederet tulisan yang membuatku tertegun dan kemudian bahagia seketika.

Seseorang menuliskan sebuah kata-kata sederhana yang membuatku sedikit tersanjung. Membuatku senang dan membuatku entahlah. Ada banyak rasa saat itu. Lalu, aku akan mengingat setiap tulisan  yang pernah dia torehkan sebelum-sebelumnya. Dan tiba-tiba, sebuah harapan menyeruak. Asa yang pernah aku kuburkan sedemikian dalam setiap aku mulai cemas dan takut akan timbulnya harapan itu.

Aku biarkan diriku bahagia sesaat. Menikmati manisnya untaian kata itu, membacanya berulang-ulang seolah aku remaja yang sedang dimabuk cinta. Seolah aku menerima surat cinta pernyataan dari orang yang kusayang.

Aku ingin sekali ‘merekam’ momen itu hingga aku bisa menulis kalimat demi kalimat dalam sebuah novel yang sedang kususun. Hingga aku benar-benar bisa menjiwai si tokoh yang sedang dimabuk kebahagiaan.

Tapi, ternyata itu tak berlangsung lama. Logikaku tersentak. Itu hanya sebuah imaji dan khayalan yang aku buat. Itu hanya deretan tulisan sangat biasa dari seorang yang juga biasa, walau orang itu pernah hadir dalam sebuah harapan kala waktu memberinya beberapa saat silam.

Tapi nyatanya, itu juga semu dan tak berujung apa-apa. Tak elak apa yang aku hubung-hubungkan justru akan menyiksa kepingan hati yang pernah aku rekatkan. Yang lemnya kadang renggang dan perasaan sakit hati menelusup begitu saja.

Kusadari itu lewat rangkaian kata dalam tulisan yang ia buat. Sesuatu yang biasa, sapaan yang juga sangat bisa, dan berlaku untuk siapa saja.

Walau ada sedikit ketidakrelaan hati yang menyatakan bahwa itu lain, itu luar biasa, itu adalah pertanda darinya, aku segera mengelak dengan ketakutan yang kumiliki, ketakutan yang didasari oleh logika, ketakutan akan hadirnya harapan yang kuyakini akan pupus sebentar lagi dan akan lebih menyakitkan nantinya.

Sudahlah.

Sudahlah

Sudahlah

Yah, sudah…

Kalau memang ada saatnya dan jalannya pada tempat yang sama dengan yang kutuju, hadirnya tak hanya basa-basi sebuah tulisan, hadirnya tentu dengan pernyataan yang jelas, bukan sesuatu yang kutafsirkan sebagai tanda-tanda, tapi nyatanya imaji belaka.

Aah, paling tidak aku masih “merekam” wajah bahagia itu dalam ingatanku, wajah yang berbeda ketika aku mulai mengetikkan tulisan ini.

Hmm🙂

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s