berpikir · family · kehidupan · keluarga

Mencari Solusi

“Nyicil motor gih, Nop,” ujar abangku suatu kali.
Aku nggak terlalu menanggapinya saat itu.

Hehe, sebelum-sebelumnya, aku sesekali minta anterin berangkat kuliah😀
Tapi, sejak ia sering berangkat kerja sekitar pukul 10 atau sekitar bakda zuhur, aku udah nggak bisa minta anterin lagi karena beda arah.

Aku masih enggan mencicil motor. Aku malas bikin SIM yang susah itu :p Aku puyeng lihat jalanan Jakarta yang ramai dan para pengendara yang banyak nggak sabaran, mengumpat, dll. Belum lagi, aku gampang nyasar. Ugh.

Kalau naik angkot kan, aku bisa hafalin jalan, walau mirip-mirip. Aku hanya tinggal duduk sambil baca buku, dan bisa tidur *teteubh.

Akan tetapi, keinginan mencicil motor kembali hadir ketika aku masih harus pulang malam yang kadang bikin aku ketar-ketir. Plus, kalau bawa motor kan bisa sekalian bawa dagangan, hehe *niat* :p

Dan, sejak itu, aku jadi meratiin motor-motor di jalan😀
Kayaknya H*n** sc**p* lucu juga, tapi waktu naik *i* aku agak gugup, karena nggak biasa pakai yang matic😀

Waktu belajar motor ketika SMP, aku pakai gigi :p sampai sekarang, kalau sesekali pinjem motor abangku ya si motor bergigi, hehe. Hmm, lihat nantilah.

Aku ceritakan hal itu ke kakak perempuanku kemarin. Aku bilang kalau cicilanku yang segambreng udah kelar, aku mau mencicil motor. Niatnya sih mau lewat dia aja nyicilnya, hehe. Aku tanya-tanya, sebulan berapa? Sambil mengingat-ingat pemasukanku yang berbeda tiap bulannya.

Aku juga ceritakan soal pengalaman pulang malam-malam naik angkot yang bikin aku parno.

Kakak perempuanku malah becandain aku.
Dia bilang pas lagi di angkot, ajak ngobrol abang sopirnya dengan bilang, “Abis pulang latihan karate, nih,” “Minggu depan, mau ujian naik tingkat ban item,” atau “Abis latihan nembak nih kaliber sekian,” dan segala obrolan lainnya.

Hadah, ini orang diajak serius juga -_-

Ujung-ujungnya, “Nikah aja, Nop,” biar ada yang antar-jemput. #eaaaa

Ketika di rumah kakak, ibu sepertinya sudah mendapat cerita dari kakakku soal niatku mencicil motor. “Nanti capek, bla bla bla bla.”

Yah, dulu pas aku bawa motor abangku ke kampus itu, aku emang nggak izin ibu. Aku baru bilang bawa motor setelah pulang, hehe. Izin ditarik setelah aku kena tilang😀

Ibu tampaknya tak merestui mengingat kadang aku suka ngerjain kerjaan hingga malam. Khawatir naik motor kecapean dan karena aku itu panikan dan tegang ketika bawa motor. Yah, kan ikutin arus aja, aku kalem, kok, kalau bawa motor. Masalahnya, pengendara motor-motor lain nggak kalem, ya *pisss :p

Pada akhirnya, ibu pun sama kayak kakak,
“Nikah aja,”

#eaaaaa

— menutup pembicaan soal motor untuk sementara —

-_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s