berpikir · kehidupan

Paranoid

Parno. Paranoid. Itulah satu kata yang menghantuiku, membuatku tak nyaman.

Berbagai berita tentang tindakan kriminal di angkutan umum, cerita-cerita ini dan itu menambah keparnoanku pulang malam hari ini. Belum lagi salah satu penumpang yang bercerita tentang temannya yang dipalak di depan Mall dekat terminal. Haduh.

Memang waktu sudah cukup malam, tapi biasanya angkutan ini masih cukup ramai peminatnya. Masalahnya adalah mereka turun di mana saja?

Entah kenapa, kali ini tak ramai penumpang, dan sebalnya mereka cepat turun. Sementara itu, rumahku nyaris ujung alias dekat pangkalan si angkot.

Hingga pada akhirnya, aku menjadi satu-satunya penumpang di angkot itu.
“Turun di mana, Mbak?”
“DKI,” jawabku menyebut nama kompleks yang lebih dikenal dengan sebutan itu.
Feeling-ku udah nggak enak kalau ditanya ‘turun di mana’. Kalau nggak mau dipindahin yaa, si abang sopir mau muter ke arah yang lebih cepat dan tidak melewati tempat-tempat tertentu. Alhamdulillah, aku cukup hafal daerah-daerah itu.
Nah, bener kan si sopir muter, ngebut, jalan terus, dan ketika ada 2 cowok mau naik, si sopir bilang, “Belakang aja.”
Degh, kenapa 2 calon penumpang itu nggak boleh naik dan angkot terus melaju. Aku bingung dan mulai parno. Aku mulai menggeser tempatku duduk.

Tiba-tiba, angkot berhenti di pinggir jalan. Hmm, ngetem? Tapi, kalau dia ngetem di sini, kenapa 2 calon penumpang itu nggak boleh naik?

Berbagai pikiran berkecamuk. Apa sopir ini janjian? Jadinya berhenti di sini. Apa dia tahu aku pegang HP, bawa laptop, apa ini itu? Dan lain sebagainya. Apa aku turun aja?

Ketika ada penumpang lain, dia pun bertanya, dan secara tersirat menolak penumpang. Tapi, si sopir masih cukup baik memberi tahu ke calon penumpang yang ternyata salah arah.

Aku bingung dan parno antara mau turun dan tentunya terus berdoa.

Kalau aku turun, si sopir kan udah tahu aku mau ke DKI. Aku nggak pengen dia tersinggung, selain juga masih ada keyakinan, aku tetap diantar sampai tujuan.

Kayaknya sih nggak ada masalah, tapi agak parno. Gelisah rasanya sampai si sopir bilang kepadaku akan dicarikan angkot dengan nomor yang sama. Ooooh, ya Allah. Astaghfirullah.

Jadi, bisa kusimpulkan bahwa si sopir akan pulang dan ia merasa bertanggung jawab mencarikan aku angkot lain dengan nomor yang sama. Dia juga tak mau dibayar, dan menyuruhku membayar ongkos ke angkot lain yang akhirnya tak lama lagi datang.

Tarik napas… Embuskan.

Akhirnya aku naik angkot yang distop si sopir baik hati itu.

Sepi, dan lagi-lagi aku jadi penumpang terakhir. Dan kembali si bapak sopir bertanya, “Turun di mana?” Fuuuh.

Alhamdulillah, makin menyadari rezeki dan nikmat bisa sampai rumah dengan selamat.

— aku lapar dan jalan udah pincang-pincang, tempat tukang nasi goreng itu selalu ramai dengan antrean, dan aku malas ngantre, apa lagi kaki lecet karena sepatu baru dari ibu, halah :p —

Yang masih di jalan, hati-hati, ya🙂
Ma’assalamah
Yang sudah di rumah, selamat istirahat, ya
Ila liqo besok2😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s