belajar

Tetap Melangkah…

Tak terasakah, ah aku pikir, sangat terasa. Yah, bergulirnya waktu benar-benar terasa. Seharusnya.

Bukan dengan tiba-tiba, keponakanku yang pertama akan berusia 10 tahun bulan Mei nanti. Adiknya, si kembar akan masuk SD dan adiknya yang keempat akan masuk TK.
Bocah lucu itu akan berusia 4 bulan. Ketika tertawa, sudah bisa kudengar jelas, sangat menghibur dan lucu. Kakaknya berlari ke sana kemari. Mengoceh. Ia suka mengambil pulpen atau spidolku dan kemudian mencorat-core tembok. Yah tahun ini usianya akan bertambah menjadi 2 tahun. Hmmm.
Usia ibu pun nyaris 60 tahun.


Ah ya, kalau dihitung-hitung, seharusnya jatah kuliahku tinggal 3 semester. Aku harus segera memikirkan skripsi. Kursusku tinggal hitungan bulan untuk kenaikan level. Level terakhir. Walau kusadari, di level ini, aku merasa sangat kurang. Kurang belajar dan kurang praktik, hehe.
Waah, segalanya tampak begitu cepat. Masihkah aku bisa katakan aku merasakan semua itu… andai tak diingatkan dengan dokumentasi atau tulisan-tulisan yang pernah kutorehkan di sini.
Kapasitas otakku tentu tak mampu mengingat semua andai tak dipancing dengan berbagai hal. Bisa benda, bisa keadaan, bisa banyak hal.
Akan tetapi, kenapa kadang dengan demikian bodohnya, aku “memilih” mengingat-ingat sesuatu yang buruk yang kualami yang kemudian membawa pengaruh buruk juga bagi diriku. Membuatku mundur setahun hingga lima tahun ke belakang hanya untuk menemukan satu kata bernama “penyesalan”.
Aaah, padahal masih banyak atau justru lebih banyak hal baik yang kualami. Bahkan karena teramat banyaknya, aku tak mampu benar-benar mengingat. Mungkin saja karena banyak itulah aku lupa untuk mensyukurinya. Dasar.
Kemudian, aku dapati diriku dalam keadaan gundah akan beberapa hal yang datang secara bersamaan. Saling mendukung dan saling terkait. Aku justru merasa terhempas. Apakah aku mampu jalani ini? Lalu, berbagai hal lain ikut melekat dan membuatku makin gamang. Hei, aku lupa, apa pun di dunia ini bisa terjadi. Kenapa tak aku nikmati saja keadaan ini. Kalau memang ini jalan bagi keberuntungan (aku menyebutnya begini karena ada faktor itu di sana), ini jalan ketakutan (bahwa aku ternyata mempunyai banyak kekhawatiran akan harapan yang takutnya ketinggian) dan apa aku sudah siap (siap akan keadaan atau berakhirnya sebuah waktu di dunia).

Kalau aku hanya terus berpikir begini dan malah lupa dengan amanah-amanah yang harus segera kulaksanakan, aku adalah pecundang, pengecut…. Keadaan yang kukhawatirkan belum tentu ada. Kalaupun ada, pasti akan ada banyak kerikil atau batu halangan. Berbagai hal yang seringnya sudah kupikirkan, kuanalisis, tapi beberapa kali juga meleset. Ah, ya… namanya juga manusia, hanya bisa berencana dan Allah pembuat skenario terindah itu.
Hmm, kemudian, aku berkali-kali meyakinkan diriku bahwa hadapi, hadapi saja, jangan terlalu khawatir. Pinta, pinta kepada-Nya… kata seorang teman, tawakal… Apa pun bisa terjadi, ya. Hidup yang pastinya akan menemukan kematian. Waktu yang tak pernah menunggu, dan tindakan yang harus segera dilakukan. Kalau tidak, kita akan diam pada suatu waktu membiarkan semua bergerak. Hingga akhirnya, kita dapati diri terus melangkah mundur dalam kerutan usia, tapi melihat manusia lain terus berlari, bahkan melompat.
Aaah, cukup sudah kurasa. Aku harus melangkah, apa pun yang terjadi. Doakan aku, kawan. Doaku juga untukmu ^_^
*tulisan ini begitu membingungkan, ya?šŸ˜€
Ah, tak apa-apa, biar aku membuat sebuah jejak bahwa aku pernah ada di “posisi ini” walau ketika membaca suatu saat nanti, aku belum tentu bisa benar-benar menebak apa yang aku rasakan saat itu, haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s