teman

Suratku kepada seorang kawan :)

Dear kawan, selamat malam…

Tampaknya aku perlu menuliskan ini kepadamu entah kau sempat membacanya atau tidak. Entah engkau merasa penting atau tidak dengan tulisanku ini. Anggap saja aku ingin bercerita kepadamu. Jadi, aku harap kamu mau membacanya. Memaksa sekali aku ini😛

Ah, ya ketika aku menuliskan ini, tepat sekali aku sedang meng-input tugas kuliah. Sekadar informasi aja, aku ditugaskan memasukkan tugas-tugas menulis di mata kuliah jurnalistik. Nah, tadi aku sedang mem-posting tugas menulis seorang temanku. Ia seorang bunda. Ia menuliskan dengan sangat indah. Aku kutipkan ya  kata-katanya. 

Setiap detik menjadi Ibu, itulah ‘sekolah’ –tarbiyah- Allah untukku, learning by doing. Sepenggal percakapan di atas, itu hanya salah satu sesi dari sejuta sesi kehidupanku sebagai seorang Ibu. Menjadi Ibu bukan sesuatu yang mudah. Buatku ini sangat berat tapi harus dilalui. Bukan sekadar peluh dan air mata, tapi –meminjam istilah kawan- bisa sampai ‘berdarah-darah’. Luar biasa membutuhkan kesabaran, kecerdasan, keikhlasan yang 3K (konstan, konsisten dan konsekuen), serta ketergantungan yang sangat kepada Allah. Mereka adalah amanah yang dititipkan-Nya padaku, sementara aku adalah seorang Ibu yang masih penuh kekurangan dan kelemahan. Semoga Allah senantiasa membimbingku agar bisa menjadi Ibu yang baik untuk anak-anakku. Amin. 

Mungkin kamu akan bertanya. “Apakah aku ingin menjadi seorang ibu?” Aku pasti akan merengut dan ingin menjitak kepalamu. “Iyalaaaah.” Aku mengerti pertanyaanmu itu pasti akan berujung pada keadaanku saat ini. 

Hei, jangan terlalu serius begitu. Aku tak akan tersinggung, kok. Aku sadar dengan usiaku. Aku sadar dengan keadaanku yang makin hari makin sibuk saja. Seolah aku tak sempat memikirkan ‘masa depan’ itu. Tenang saja, kawan… aku hampir selalu memikirkannya. Apa lagi, di sekelilingku kini, banyak bocah-bocah. Apa lagi, dalam kegiatanku, aku selalu menghadapi anak-anak. Dan seperti kamu tahu sendiri, aku sangat ingin menjadi guru :) 

Tapi kawan, tak semudah itu ternyata jalanku. Kautahu kan takdir? Eits, tapi aku bukan ingin menyalahi takdir. Hanya, kadang harapanku tak bisa semua terlaksana. Tentunya Allah yang paling tahu akan diriku ini, mengerti keadaanku. Aku terus berusaha, kok. Aku dengan mimpi-mimpiku, menjalani hari dan selalu menuju jalan ikhtiar. Tapi memang, terkadang aku dianggap terlalu idealis. Aah, apa lagi dengan yang kautanyakan kala itu. Aku begitu kukuh memegang prinsipku dan rencana-rencanaku. Beberapa orang di sekelilingku berpikir, kenapa aku tak mengalah. Kenapa aku tak mencoba. Kenapa aku malah memilih jalan yang ternyata membuatku benar-benar kelelahan saat ini.

Jujur saja, dan aku harap kau tak menertawakanku atau malah membuatku tambah menyesal, aku sempat sedih dan marah. Aku kecewa, kawan. Aku sempat menyesal juga. Tahukah kawan, hal yang aku pertahankan itu ternyata tak mudah. Aku menghadapi ujian-ujian lanjutan selain ujian tiap semester dan mid. Aku harus berlari sedemikian cepat mengejar ketertinggalan. Ingin menangis rasanya. Ditambah amanah-amanah yang juga aku pegang, dan pekerjaan, kawan. Yah walau aku menikmati pekerjaanku, bukan berarti aku tak pernah lelah. Dan saat itu, aku ingat dirimu. Aha😛 Kali ini, kuharap kau jangan GR😀

Tapi, sekali lagi, aku sudah pilih jalan ini, jadi aku tak boleh menyerah kan?🙂

Lalu, kadang aku berpikir, bukankah aku pernah menggelontorkan sebuah solusi yang juga kamu tahu, tapi kamu anggap tak masuk akal. Hmm, maksudku, kamu juga memegang prinsip yang menurutmu juga penting itu. Kalau boleh aku jujur lagi, aku sempat berpikir kamu picik. Aku pikir kita bisa berdebat seperti biasa. Aku dan kamu sama-sama dalam sebuah diskusi, semacam anak-anak kampus saja, hehe. 

Sayangnya, kamu lebih memilih diam, tak mengingatkan aku. Kamu hanya bilang, manusia itu punya kehendak masing-masing, tak bisa dipaksakan. Aah, padahal saat itu aku ingin berkompromi. Aku ingin tahu seberapa besar kau memberi pengaruh kepadaku, begitu juga aku ke kamu. Yah, seperti yang kita lihat bersama di TV-TV, para politikus itu berebut pengaruh rakyat untuk sebuah suara. Ahahaha, lelah rasanya aku menonton dagelan di negeri ini, kawan. 

Lalu, aku pun kini banyak merenung. Apa saja sih mauku, sepertinya banyak sekali. Aku yakinkan diriku dan pilihan-pilihan yang aku jalani. Aku hormati pemikiranmu sebagaimana kamu pun menghargai pemikiranku. Dan, aku masih tetap orang yang sama. Yang memegang prinsip yang kuat atas sesuatu itu di masa depan. Semoga aku bisa istiqomah ya, kawan. Semoga aku pun bisa bertemu dengan orang yang juga sama-sama memiliki mimpi seperti aku. Masa sih tak ada orang yang sama ‘gilanya’ dengan aku? Ahahah. Itu kan yang kaukatakan kepadaku, hehe. 

Terima kasih, kawan salah satunya lewat kamu, aku jadi mendapat banyak masukan. Bahwa inilah kehidupan, dunia, dan pemikiran. Kita yang berbeda ini pada dasarnya punya tujuan yang sama pada kehidupan akhirat nanti. Masalahnya adalah apakah kita bisa bersama-sama berjuang ke sana. Ya kan? Moga saja aku tak salah pengertian dengan ucapan-ucapanmu itu. 

Hmm, stop, aku tahu kamu akan berujar lagi. 

Tapi sebelum itu, aku berpikir, bahwa tak ada yang perlu disesali kalau saja kita bisa memahami sesuatu dengan baik, ya? Seperti yang kamu kasih tahu ke aku, semua pasti ada hikmahnya walau nanti masih di belakang. Yah, ada hikmahnya juga kita bertemu. Aku jadi tahu makhluk serius seperti apa kamu itu? Dan kamu jadi tahu makhluk aneh macam apa aku ini. Katamu, aku idealis dan norak. Ah biar saja, daripada kamu serius dan aneh. Ahaha, perpaduan yang kacau. 

Oh ya, kawan. Aku sampai lupa belum mengucapkan selamat tinggal. Moga dengan kehidupan di tempat yang baru, kamu tetap dirimu. Tetap bersemangat untuk meraih ridha-Nya. 
Moga saja kamu selalu dalam limpahan kasih sayang-Nya dan tentu tetap berjalan dalam kebaikan. 

Doakan aku juga, ya ^_^

 



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s