Tak Berkategori

Butuh Pengakuan?

Butuh Pengakuan?

Konon wanita lebih butuh pengakuan dibanding laki-laki?
Nggak usah gender dulu, deh. Pengakuan, pengen dianggap, pengen dihargai dan pada taraf woooy, please look at me!

Untuk urusan kayak begini aku jadi rada sensi. Masa kecilku cukup baik, dengan orangtua yang punya pola asuh yang insyaAllah akan kuambil nilai yang baik-baiknya… Tapi, lingkunganku, yah sebuah lingkungan yang “menciptakan” aku menjadi seseorang yang ingin diakui. Aku beberapa kali dijadikan pembanding si cantik dan si pintar sampai pada satu kesempatan, aku bisa lebih pintar darinya, tapi kalau urusan cantik, yaa nggak bisalahšŸ˜› Dan, hei si kecil kurus yang jadi pengurus OSIS itu bukan siapa-siapa dibanding siapa-siapa yang tak menganggap keberadaanmu di sebuah kesempatan. Padahal, dia hanya beberapa langkah rumahnya dari rumahmu?

Mungkin pada banyak kejadian, aku merasa rendah, terbuang, tak dianggap, di-bully sejak ya sejak masa kecil itu. Masa aku pernah jatuh ke got dengan pakaian yang kotor dan teman-temanku yang salah satunya teman baik tidak membantu, padahal mereka yang menyuruh untuk memejamkan mata ketika berjalan. Aku? Bodoh? Entahlah. Hingga SMU, aku masih menemukan seorang teman yang asyik saja menipu dan membodohiku karena konon aku gampang percaya, mungkin telmi juga. Yang aku benar-benar menganalisis dengan kepolosanku hingga aku benar-benar takut permen karet bisa mematikanku saat itu juga. Ugh.

Hingga… ketika aku merasa aku berada di tempat yang tepat dalam sebuah tempat yang aku bisa menjadi apa saja… aku pun pernah sangat TEGA dibiarkan BERLARI mengejar mobil yang disuruh TERUS BERJALAN.

Kalian nggak tahu kan kalau aku menangis jauh setelah kejadian, menyimpan sakit hatiku, karena kalian yang sudah kuanggap sahabat, melakukan itu? Apa salahku hingga aku mudah di-bully?

Hingga kemudian, aku butuh pengakuan. Tapi, masih saja dengan seenaknya diperlalukan tidak menyenangkan. Hei, jangan salah, bullying nggak hanya terjadi pada anak sekolah. Sahabatmu pun bisa melakukan itu.

Aah, sudahlah.

Toh, semua sudah terjadi. Siapa aku balik lagi ke diriku. Dengan sederet pengalaman itu, aku sering dan salah untuk berharap sebuah PENGAKUAN. Betapa aku begitu BERNILAI. Aku bukan orang yang mudah ditipu, dibodohi, dan dianggap tidak sekasta, dll.

Lalu, apa aku puas?
Nggak. Aku nggak butuh pengakuan orang-orang yang menyakitiku.
Aku nggak butuh.

Aku perlu lebih menghargai diriku. Lebih mengoreksi diri untuk menghargai orang lain. Terutama orang-orang tercinta yang tak pernah memintaku mengakui begitu besar rasa cinta mereka kepadaku tanpa perlu aku harus memberi PENGAKUAN.

Ah, dear…. usia yah usia tak harus menjadi takaran kedewasaan.
Bukankah dia yang pandangannya penuh cinta itu begitu dewasa… dan hei, usia tahun masih beberapa bulan, tapi kedalaman matanya menunjukkan dia adalah anak yang pengertian. Dan tentu, untuk dia yang tak pernah habis, cintaku untuknya.

Masih butuh pengakuan?
Hmm, bismillah…
aku lebih butuh ridha-Nya…šŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s